Oleh : Dr. H. Sulthani, S.H.,M.H.

Advokat

Peduli politik dan Demokrasi

Makassar, (26/10/2026) Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Partai Golkar yang dirangkaikan dengan pelantikan pengurus DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan (Sulsel) periode 2026–2031 di bawah kepemimpinan Ilham Arief Sirajuddin (IAS) pada 25 Oktober 2026 menampilkan dinamika politik yang menarik.

Kehadiran jajaran elite pusat mulai dari Ketua Umum DPP Partai Golkar yang juga Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Sekretaris Jenderal sekaligus Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji, hingga menteri kabinet lainnya serta wakil Wali Kota Makassar dan pengurus DPD menandakan kuatnya konsolidasi internal partai Golkar di Sulawesi Selatan.

Di sisi lain, ketidakhadiran Gubernur Sulawesi Selatan dan Wali Kota Makassar yang secara normatif dan atau politis dipandang sebagai pembina partai politik atau bagian dari eksekutif daerah menjadi sorotan. Adapun makna di balik konfigurasi kehadiran para elit partai Golkar dari pusat hingga DPD II, menurut hemat penulis :

1. Sebagai Konsolidasi Kekuatan Internal.

Kehadiran Ketua Umum Bahlil Lahadalia bersama rombongan menteri memperlihatkan bahwa DPP Golkar memberikan perhatian serius dan mandat besar kepada DPD I Golkar Sulsel di bawah kepemimpinan IAS. Acara ini bukan sekadar seremoni HUT ke-62, melainkan starting mesin partai unjuk kekuatan (show of force), meski IAS telah melakukan konsolidasi muhibah partai ke seluruh DPD II. Kehadiran ribuan kader dari 24 Kabupaten/Kota menunjukkan bahwa fokus utama acara ini adalah mengonsolidasikan barisan internal beringin menyambut agenda politik ke depan.

2. Ketidakhadiran Gubernur Sulsel dan Wali Kota Makassar dalam kapasitas mereka sebagai Kepala Daerah/pembina partai politik dapat dimaknai bahwa boleh jadi ketidakhadiran tersebut disebabkan oleh agenda pemerintahan yang bersamaan, atau adanya kalkulasi politik tertentu di tingkat lokal yang dipandang sebagai dinamika persaingan partai politik mengingat Gubernur dan Walikota secara subjektifitas berasal dari partai lain yang tentu menjadi pesaing pada agenda politik 2029. Ego pragmatisme politik dan sikap sektarian berpolitik berpolitik juga menjadi salah satu faktor sulitnya membangun komunikasi politik antar elit partai. Tetapi IAS sebagai tokoh politik senior Sulawesi Selatan tidak perlu diragukan sikap egaliternya berpolitik. Prinsip IAS "sejuta kawan kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak, kita bukan siapa- siapa tanpa sahabat". 

Meskipun kepala daerah tingkat provinsi dan kota tidak tampak, Golkar Sulsel tetap mengedepankan kehadiran kepala daerah/wakil kepala daerah dari berbagai daerah lain serta antusiasme akar rumput. Dengan memboyong "Pesta Rakyat" ke ruang publik yang melibatkan puluhan UMKM, Golkar mengirim pesan bahwa kekuatan partai tidak selalu bergantung pada simbol- simbol birokrasi pemerintahan, melainkan pada kedekatan langsung dengan massa dan pelaku ekonomi lokal. Partai Golkar SulSel harus mengandalkan potensi politik secara mandiri, mengingat posisi pemimpin Sul Sel dan Makassar diduga memiliki kepentingan pragmatis untuk memenangkan partainya.(*)