Oleh : Sulthani
Anggota Dewan Pakar
Makassar, (28/10/2026) Diskusi yang bergulir di ruang-ruang konsolidasi internal seperti yang diinisiasi Dewan Pakar Golkar Sul Sel di Kantor DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan menjadi penanda penting bahwa Partai Beringin tidak akan terlena dalam romantisme kejayaan masa lalu. Ketika pemaparan skema strategi pemenangan yang disampaikan Ketua Dewan Pakar Golkar Sulsel, Prof. A.M. Sallattu, lalu mempertemukannya dengan realitas lapangan yang disampaikan oleh legislator DPRD Sulsel dari Fraksi Golkar, seperti A. Kadir Halid dan Armin Mustamin Toputiri (atau Amin Toputiri), dialektika yang lahir bukanlah pertentangan, melainkan narasi yang menyatukan antara realitas berdemokrasi dan konsep strategi menghadapi demokrasi transaksional.
Pemaparan Prof. A.M. Sallattu dari sisi Dewan Pakar tentu berorientasi pada konsepsi akademis, peta makro, serta desain kebijakan strategis yang terstruktur. Di sisi lain, paparan dari Kadir Halid dan Armin Mustamin Toputiri menghadirkan cermin konkret tentang denyut nadi politik dan demokrasi elektoral pada akar rumput di mana idealisme sering kali berbenturan dengan arus pragmatisme pemilih dan dinamika kompetisi kontestasi lokal.
Pertemuan dua Strategi pemenangan Pemilu 2029 tidak bisa hanya mengandalkan angka angka di atas kertas atau teori-teori organisasi yang kaku, tetapi juga harus mampu merespons rasionalitas pemilih hari ini yang bergerak dinamis. Kecuali Golkar bertekad melakukan terobosan paradigma dan semangat baru dengan menyuarakan amandemen UU Pemilu yang lebih komprehensif termasuk sanksi berat bagi kontestan dan penyelenggaran pemilu yang melanggar hukum, yang tentu saja menguntungkan partai Golkar sebagai partai lumbung kader potensial sebagai politisi handal dengan latar belakang politisi berpengalaman dan aktivis kampus atau ormas dan OKP.
Sesungguhnya pragmatisme berpolitik sering kali dipandang sebagai "musuh" kebesaran partai ideologis, tetapi dalam diskursus yang sehat, pragmatisme harus dibaca sebagai gejala sosial politik yang perlu dikelola, bukan sekadar dikritisi tanpa solusi dengan catatan politisi Golkar tidak boleh terjebak pragmatisme tersebut. Kemenangan Golkar sangat ditentukan pemilu yang berkualitas (Jurdil). Anggota dewan yang bersentuhan langsung dengan konstituen tentu memahami betul bagaimana logistik, kedekatan emosional, dan pelayanan harian menjadi penentu pilihan politik.
Gagasan yang disampaikan secara bergantian oleh para anggota Dewan Pakar kemudian ditantang untuk menjawab, bagaimana mendesain kebijakan partai dan kerja-kerja elektoral yang memadukan kekuatan ideologi karya kekaryaan dengan kemampuan menjawab kebutuhan riil masyarakat di TPS, sehingga dijawab oleh Prof Tahir untuk mempersiapkan roadmap kebijakan strategis partai Golkar SulSel yang diharapkan menjadi pedoman bagi pengurus DPD I dan DPD II membuat program taktis dan strategis untuk berbagai strata/kualifiaksi pemilih.(*)