Penulis: Irianto Amama

 

amperanewsmakassar.com. Bau busuk dan menjijikkan. Itu kesan pertama ketika kita melihat tumpukan sampah atau limbah di sekitar kita. Aroma bau tak sedap yang bersumber dari limbah, seringkali, bahkan kebanyakan orang menganggap sesuatu yang tak bernilai. Sehingga, dibiarkan berserakan, menumpuk atau dibuang begitu saja di sembarang tempat. Sembari, menunggu untuk diangkut dan dibersihkan. 

Tapi, tidak semua orang beranggapan bahwa limbah itu sesuatu yang menjijikan. Dan, di balik tumpukan limbah yang dianggap menjijikan itu bisa bernilai ekonomi. 

Adalah sosok Ha'dado (53), salah seorang warga, Dusun Takkalasi, Desa TemmapaduaE, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros yang peduli dengan lingkungan dan menjadikan limbah sebagai sumber rezeki yang bernilai ekonomi. 

Tidak berlebihan, jika saya katakan bahwa ada potensi dan skill yang dimiliki oleh Ha'dado. Bagaimana cara mengelola limbah dari berbagai jenis bahan plastik, seperti air gelas dan lainnya di daur ulang. Sehingga dapat menghasilkan rupiah. Karena tidak semua orang yang mau bergelut dengan barang bekas yang ternyata dapat menciptakan lapangan kerja dan dapat menghidupi warga sekitarnya. Ya. Mungkin karena merasa gengsi dengan pekerjaan seperti itu. 

Ketika penulis berkunjung ke Desa Tellupocoe yang berbatasan dengan Desa TemmapaduaE Marusu, lokasi dimana proses bahan - bahan plastik itu didaur ulang, nampak biasa -biasa saja. Yang terlihat tumpukan karung yang berisikan limbah plastik tertata apik. Tidak ada bau yang menyengat. Ada juga beberapa pekerja emak-emak yang lagi asyik bekerja. Membersihkan, menyortir limbah buangan berupa botol-botol plastik bekas. Sementara pekerja pria lainnya melakukan proses pembersihan melalui wadah yang berisikan air untuk selanjutnya didaur ulang melalui mesin yang telah disiapkan.  

Namun, usaha yang dirintis Ha'dado, tidak dengan cara hanya sekedar membalikkan telapak tangan, "bim sala bim'", maka jadilah. Tidak. Usaha yang dirintisnya itu melalui proses yang cukup panjang, namun tetap mendapat dukungan dari keluarga. Seperti pengusaha lainnya, Ha' dado tetap merasa optimis bahwa suatu saat usaha yang digelutinya sejak tahun 2005 hingga saat ini akan membawa hasil, meski pun melalui lika liku yang cukup panjang. 

Apabila kita kilas balik dari status kehidupan dan profile Ha'dado saat ini, dia tidak perlu mengotori tangannya dengan limbah yang menurut sebagian orang menjijikan. Karena statusnya sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Distrik Navigasi Klad 1 Makassar. Namun, kepeduliannya dengan lingkungan hidup di sekitarnya sehingga tertarik untuk meneruskan usahanya untuk menjadi " juragan limbah". (Bersambung)