amperanewsmakassar.com, MAKASSAR - Di tengah hingar-bingar ruang pelatihan yang dipenuhi oleh puluhan peserta dari berbagai daerah, sorotan mata tertuju pada sosok Waode Sabariah, seorang guru Pendidikan Agama Islam berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) paruh waktu. Dengan wajah tenang namun penuh fokus, ia duduk di barisan depan sambil menggendong erat bayinya yang baru berusia lima bulan di dalam gendongan kain tradisional. Kehadirannya menjadi simbol nyata dari dedikasi tanpa batas, di mana peran sebagai ibu dan pendidik tidak saling meniadakan, melainkan berjalan beriringan dalam harmoni yang mengharukan. Bagi Waode, membawa serta buah hatinya bukan sekadar pilihan darurat, melainkan bentuk keteguhan hati untuk tidak melewatkan kesempatan berharga meningkatkan kompetensi demi kualitas mengajar yang lebih baik.
Kehidupan sehari-hari Waode dijalani dengan kesederhanaan dan disiplin tinggi di wilayah pegunungan. Jarak antara rumahnya dan sekolah tempat ia mengajar hanya sekitar 500 meter, sebuah jarak yang ditempuhnya setiap hari dengan berjalan kaki atau menggunakan ojek daring tergantung kondisi cuaca dan kesehatan sang bayi. Meski jaraknya relatif dekat, Waode harus mengalokasikan Rp7.000 setiap harinya untuk kebutuhan transportasi pulang-pergi dan jajan sederhana selama aktivitas belajar mengajar berlangsung. Angka tersebut mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang, namun bagi seorang guru paruh waktu dengan penghasilan terbatas, pengeluaran itu merupakan bagian dari perhitungan ekonomi rumah tangga yang harus dikelola dengan cermat agar tetap seimbang dengan kebutuhan pokok keluarga.
Meski berstatus sebagai guru paruh waktu, semangat Waode untuk belajar tidak pernah surut. Ia melihat pelatihan ini sebagai jembatan penting untuk membuktikan bahwa keterbatasan status kepegawaian tidak boleh membatasi akses terhadap pengembangan diri. Di sela-sela sesi materi, ia sering terlihat membelai lembut kepala bayinya yang tertidur pulas, seolah memberikan jaminan kasih sayang meski sedang berada di lingkungan formal. Rekan-rekan sesama peserta pelatihan banyak yang terinspirasi oleh ketabahannya, menjadikan Waode sebagai contoh nyata bahwa profesionalisme tidak diukur dari seberapa nyaman posisi seseorang, tetapi dari seberapa besar usaha yang diberikan untuk tetap unggul dalam melayani peserta didik.
Kisah Waode Sabariah menjadi pengingat bagi kita semua tentang arti sebenarnya dari panggilan hati seorang pendidik. Di balik punggungnya yang membopong beban ganda—tugas negara dan tanggung jawab maternal—terdapat harapan besar agar generasi muda di daerahnya mendapatkan pendidikan terbaik. Dedikasinya mengajarkan bahwa keterbatasan fasilitas, jarak, maupun finansial bukanlah halangan untuk terus berkarya. Melalui setiap langkah kecilnya menempuh 500 meter dan setiap rupiah yang ia keluarkan, Waode sedang menulis sejarah kepahlawanan modern yang sunyi namun sangat bermakna bagi masa depan pendidikan di pelosok negeri.(*)